Minggu, 24 Mei 2015

proses adaptasi psikologi ibu dalam masa nifas

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
2013/2014

KATA PENGANTAR
            Puji syukur atas kehadirat ALLAH SWT. Dimana atas berkat rahmat dan inayahnyalah sehingga penulis bisa menyelasaikan makalah ini dengan tepat waktu.penulis mengucapkan terima kasih kepada ibu hj.hasriani,S.ST sebagai dosen kami yang telah membimbing kami dalam menyusun makalah ini. Terima kasih pula kepada teman-teman kelompok V atas kerja samanya dalam penulisan makalah ini.
            Makalah ini kami susun dengan berbagai sumber. Dalam mata kuliah asuhan kebidanan III (nifas) kami dipercayakan untuk menyusun makalah yang berjudul “PROSES ADAPTASI PSIKOLOGIS IBU DALAM NIFAS”.
            Semoga bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman sekalian, mohon saran dan kritikan yang membangun bagi penulis agar kedepannya dalam menyusun makalah lebih baik dari yang sekarang. TERIMA KASIH…….

MAKASSAR,………NOVEMBER 2013
TTD

PENULIS



DAFTAR ISI
SAMPUL………………………………………………………………..
KATA PENGANTAR…………………………………………………
DAFTAR ISI……………………………………………………………
BAB I PENDAHULUAN
1.1.latar belakang……………………………………………..
1.2.  Rumusan Masalah………………………………………………
1.3. Tujuan…………………………………………………………………
BAB II PEMBAHASAAN…………………………………………………
2.1 Adaptasi Psikologis Ibu Nifas
a
. Fase Taking In 
b
. Fase Taking hold
c
. Fase Letting Go
2.2 Post Partum Blues
2.3 Kesedihan dan Duka Cita
a.Kemurungan masa nifas
b. Terciptanya Ikatan Ibu dan Bayi
c.  Tanda dan Gejala serta Etiologi Kemurungan Masa Nifas

BAB III PENUTUP
3.1 kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA


BAB I PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG
Secara psikologis,setelah melahirkan seorang ibu akan merasakan gejala-gejala psikiatrik,demokian juga pada masa menyusui.meskipun demikian,ada pula ibu yang tidak mengalami hal ini,agar perubahan psikologis yang dialami tidak berlebihan ,ibu perlu mengetahui hal yang lebih lanjut.wanita banyak mengalami perubahan emosi selama masa nifas sementara ia menyesuaikan diri menjadi seorang ibu.penting sekali sebagai bidan untuk mengetahui tentang penyesuaiyan yang normal sehingga ia dapat menilai apakah seorang ibu memerlukan asuahan khusus dalam masa nifas ini,suatu variasi atau penyimpangan dari penyesuaiyan noramal yang umum terjadi,
            Beberapa penulis berpendapat,dalam minggu pertama setelah melahirkan,banyak wanita menunjukan gejala-gejala psikiatrik,terutama gejala depresi dari ringan sapai yang berat serta gejala-gejala neurousis traumatik .berikut beberapa faktoryang berperan antara lain,ketakutan yang berlebihan pada masa haimil,struktur perorangan yang tidak normal sebelumnya,riwayak psikiatrik abnormal ,riwayat obstetrik(kandungan)abnormal ,riwayat kelahiran yang mati atau kelahiran yang cacat,riwayat penyakit lainnya
            Biasanya,penderita dapat sembu kembali atau dengan pengobatan.meskipun demikian,kadang diperlukan  terapi oleh ahli penyakit jiwa.sering pula,kelainan-kelainan psikiatrik ni berulang-ulang setelah persalina berikutnya.hal yang diperhatikan  yaitu adaptasi psikososial pada paca persalinan.bagi keluarga muda,masa pasca  persalinan merupakan “awal keluarga baru”sehimgga keluarga beradaptasi dengan perasn barunya.tanggung jawab keluarga bertamba dengan hadirnya bayi yang baru lahir.dorongan sertaperhatian anggota lainnya merupakan dukungan positif bagi ibu.

1.2.  Rumusan Masalah
Adapun pumusan masalah dalam makalah ini antara lain:
1. Bagaimana proses adaptasi psikologis ibu dalam masa nifas?
2. Bagaimana adaptasi psikologis pada saat post partum blues?
3. Bagaimana cara mengatasi kesedihan dan duka cita pada masa nifas?

1.3. Tujuan

Tujuan makalah ini adalah agar pembaca:
1. Mengetahui proses adaptasi psikologis ibu pada masa nifas.
2. Mengetahui adaptasi psikologis saat post partum blues.
3. Mengetahui cara mengatasi kesedihan dan duka cita pada masa nifas.







BAB II PEMBAHASAN
A.   ADAPTASI PSIKOLOGI IBU MASA NIFAS
            Masa nifas merupakan masa yang paling kritis dalam kehidupan ibu maupun bayi, diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. Dalam memberikan pelayanan pada masa nifas, bidan menggunakan asuhan yang berupa memantau keadaan fisik, psikologis, spiritual, kesejahteraan sosial ibu/keluarga, memberikan pendidikan dan penyuluhan secara terus menerus. Dengan pemantauan dan asuhan yang dilakukan pada ibu dan bayi pada masa nifas diharapkan dapat mencegah atau bahkan menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.

           
Perubahan psikologis mempunyai peranan yang sangat penting. Pada masa ini, ibu nifas menjadi sangat sensitive, sehingga diperlukan pengertian dari keluarga-keluarga terdekat. Peran bidan sangat penting dalam hal memberi pegarahan pada keluarga tentang kondisi ibu serta pendekatan psikologis yang dilakukan bidan pada ibu nifas agar tidak terjadi perubahan psikologis yang patologis.Setelah proses kelahiran tanggung jawab keluarga bertambah dengan hadirnya bayi yang baru lahir, dorongan serta perhatian anggota keluarga lainnya merupakan dukungan positif bagi ibu. Dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu akan melalui fase-fase sebagai berikut :


a. Fase Taking In 
           
Fase ini merupakan fase ketergantungan yang berlangsung dari hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat ini fokus perhatian ibu terutama pada bayinya sendiri. Pengalaman selama proses persalinan sering berulang diceritakannya. Kelelahannya membuat ibu perlu cukup istirahat untuk mencegah gejala kurang tidur, seperti mudah tersinggung. Hal ini membuat ibu cenderung menjadi pasif terhadap lingkungannya. Oleh karena itu kondisi ini perlu dipahami dengan menjaga komunikasi yang baik. Pada fase ini, perlu diperhatikan pemberian ekstra makanan untuk proses pemulihannya, disamping nafsu makan ibu yang memang sedang meningkat.
 

b
. Fase Taking hold
           
Fase ini berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase taking hold, ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Selain itu perasaan yang sangat sensitive sehingga mudah tersinggung jika komunikasinya kurang hati-hati. Oleh karena itu ibu memerlukan dukungan karena sat ini merupakan kesempatan yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga tumbuh rasa percaya diri.

c. Fase Letting Go
           
Fase ini merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. Keinginan untuk merawat diri dan bayinya meningkat pada fase ini.Banyak ketakutan dan kekhawatiran pada ibu yang baru melahirkan terjadi akibat persoalan yang sederhana dan dapat diatasi dengan mudah atau sebenarnya dapat dicegah oleh staf keperawatan, pengunjung dan suami, bidan dapat mengantisipasi hal-hal yang bias menimbulkan stress psikologis. Dengan bertemu dan mengenal suami serta keluarga
ibu, bidan akan memiliki pandangan yang lebih mendalam terhadap setiap permasalahan yang mendasarinya.
Fase-fase adaptasi ibu nifas yaitu taking in, taking hold dan letting go yang merupakan perubahan perasaan sebagai respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan dan akan kembali secara perlahan setelah ibu dapat menyesuaikan diri dengan peran barunya dan tumbuh kembali pada keadaan normal.Walaupun perubahan-perubahan terjadi sedemikian rupa, ibu sebaiknya tetap menjalani ikatan batin dengan bayinya sejak awal. Sejak dalam kandungan bayi hanya mengenal ibu yang memberinya rasa aman dan nyaman sehingga stress yang dialaminya tidak bertambah berat.
2.2 Post Partum Blues
            Postpartum blues merupakan kesedihan atau kemurungan setelah melahirkan, biasanya hanya muncul sementara waktu yakni sekitar dua hari hingga dua minggu sejak kelahiran bayi. Ada kalanya ibu mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya. Keadaan ini disebut baby blues, yang disebabkan oleh perubahan perasaan yang dialami ibu saat hamil sehingga sulit menerima kehadiran bayinya. Perubahan perasaan ini merupakan respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan. Selain itu, juga karena semua perubahan fisik dan emosional selama beberapa bulan kehamilan.
Disini hormon memainkan peranan utama dalam hal bagaimana ibu bereaksi terhadap situasi yang berbeda. Setelah melahirkan dan lepasnya plasenta dari dinding rahim, tubuh ibu mengalami perubahan besar dalam jumlah hormone sehingga membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Disamping perubahan fisik, hadirnya seorang bayi dapat membuat perbedaan besar pada kehidupan ibu dalam hubungannya dengan suami, orang tua, maupun anggota keluarga lain. Perubahan ini akan kembali secara perlahan setelah ibu dapat menyesuaikan diri dengan peranan barunya dan tumbuh kembali dalam keadaan normal. Post partum blues ini dialami 80% wanita setelah bersalin yaitu merupakan semacam perasaan sedih atau uring-uringan yang melanda ibu dan timbul dalam jangka waktu dua hari sampai dua minggu pasca persalinan.
Post partum blues biasanya dimulai pada beberapa hari setelah kelahiran dan berakhir setelah 10-14 hari.
Etiologi : berbagai perubahan yang terjadi dalam tubuh wanita selama kehamilan dan perubahan cara hidupnya sesudah mempunyai bayi, perubahan hormonal, adanya perasaan kehilangan secara fisik sesudah melahirkan yang menjurus pada suatu perasaan sedih.
            Gejala-gejala baby blues, antara lain menangis, mengalami perubahan perasaan, cemas, kesepian, khawatir mengenai sang bayi, penurunan gairah sex, dan kurang percaya diri terhadap kemampuan menjadi seorang ibu Sangat emosional, sedih, khawatir, kurang percaya diri, mudah tersinggung, merasa hilang semangat, menangis tanpa sebab jelas, kurang merasa menerima bayi yang baru dilahirkan, sangat kelelahan, harga diri rendah, tidak sabaran, terlalu sensitive, mudah marah dan gelisah.
 Jika hal ini terjadi, ibu disarankan untuk melakukan hal-hal berikut:
1.      Mintalah bantuan suami atau keluarga jika ibu membutuhkan istirahat untuk menghilangkan kelelahan
2.      Beritahu suami mengenai apa yang sedang ibu rasakan. Mintalah dukungan dan pertolongannya
3.      Buang rasa cemas dan kekhawatiran akan kemampuan merawat bayi
4.      Carilah hiburan dan luangkan waktu untuk diri sendiri
5.      Ada kalanya ibu merasakan kesedihan karena kebebasan, otonomi, interaksi sosial, kemandirian berkurang. Hal ini akan mengakibatkan depresi pasca persalinan(depresi postpartum). Berikut ini gejala-gejala depresi pasca persalinan:
1.         sulit tidur,bahkan ketika bayi sudah tidur
2.napsu makan hialang
3.perasaan tidak berdaya atau kehialangan kontrol
4.terlalu ceamas atau tidak perhatian sama sekali pada bayi
5.tidak menyukai atau takut pada bayi
6.pikiran yang menakutkan mengenai bayi
7.sedikit atau tidak perhatian pada penampilan pribadi
8.gejala fisik seperti banyak wanita yang sulit bernafas atau persaan berdebar debar
Hal-hal yang dapat dilakukan seorang bidan :
1.  Menciptakan ikatan antara bayi dan ibu sedini mungkin
2.  Memberikan penjelasan pada ibu, suami dan keluarga bahwa hal ini merupakan suatu hal yang umum dan akan hilang sendiri dalam dua minggu setelah melahirkan.
3.  Simpati, memberikan bantuan dalam merawat bayi dan dorongan pada ibu agar tumbuh rasa percaya diri
4.  Memberikan bantuan dalam merawat bayi
5.  Menganjurkan agar beristirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi
2.3 Kesedihan dan Duka Cita
Berduka diartikan sebagai respon psikologis terhadap kehilangan. Derajat kehialangan pada individu direflesikan dalam respon terhadap kehilangan. Contohnya kematian dapat menimbulkan respon berduka yang ringan hingga berat. Hal ini tergantung dari hubungan dan kedekatan orang yang meninggal tersebut.
1.            Kemurungan masa nifas
kemurungan masa nifas normal saja dan disebabkan perubahan dalam tubuh seorang wanita selama kehamilan serta perubahan dalam irama/cara kehidupan setelah bayi lahir.seorang ibu lebih beresiko  mengalami kemurungan pasca persalinan,karena ia masi mudah mempunyai masalah dalam menyusui bayinya.kemurungan pada masa nifas merupakan hal yang umum ,dan bahwa perasaan-perasaan demikian biasanaya hilang sendiri dalam dua minggu sesudah melahirkan.
2.     Terciptanya Ikatan Ibu dan Bayi
Menciptakan terjadinya ikatan ibu dan bayi dalam jam pertama setelah kelahiran adalah dengan cara mendorong pasangan untuk memegang dan memeriksa bayinya, memberi komentar positif tentang bayinya, meletakan bayinya disamping ibunya. Berikan privasi pada pasangan tersebut untuk sendiri saja bersama bayinya kemudian redupkan lampu ruangan agar bayi membuka matanya. Tangguhkan perawatan yang tidak begitu penting sampai sesudah pasangan orangtua bayi, dapat berinteraksi dengan bayinya selama masih dalam keadaan bangun. Perilaku normal orang tua untuk menyentuh bayinya ketika mereka pertama kali melihat bayinya yaitu dengan meraba atau menyentuh anggota badab bayi dengan telapak tangan dan menggendongnya dilengan dan memposisikanya sedemikian rupa sehingga matanya bertatapan langsung dengan mata bayi.  
3.   Tanda dan Gejala serta Etiologi Kemurungan Masa Nifas
Tanda dan gejalanya: sangat emosional, sedih, khawatir, mudah tersinggung, cemas, merasa hilang semangat, mudah marah, sedih tanpa ada sebabnya, menangis berulang kali.
Etiologi: berbagai perubahan yang terjadi dalam tubuh wanita selama kehamilan dan perubahan dalam cara hidupnya sesudah mempunyai bayi. Perubahan hormonal yang cepat sementara tubuh kembali pada keadaan tidak hamil dan sementara proses menyusui telah terjadi. Kemurungan dapat menjadi semakin parah oleh adanya ketidaknyamanan jasmani, rasa letih, stress, atau kecemasan yang tidak diharapkan karena adanya ketegangan dalam keluarga atau adanya cara penanganan yang tidak peka oleh para petugas.
Penatalaksanaan secara tradisional dan kebidanan (mungkin saja sama) bagi adanya kemurungan pada masa nifas. Berikan kesempatan luas pada ibu yang baru untuk bertanya, bicarakan apa yang terjadi selama proses persalinan dan biarkan ibu mengungkapkan apa yang dirisaukanya.  Biarkan bayi bersama ibunya, dan berikan dukungan atau dorongan pada ibu untuk merawat bayinya. Ibu yang mempunyai resiko tinggi yang mempunyai reaksi psikologis lebih parah daripada kemurungan masa nifas adalah Ibu yang rasa percaya dirinya rendah, ibu yang tidak mempunyai jaringan dukungan, ibu yang bayinya meninggal atau menyandang masalah. 
Tanda-tanda dan gejala: Tidak bisa tidur atau tidak bernafsu makan, merasa ia tidak dapat merawat dirinya sendiri atau bayinya, berfikir untuk menciderai dirinya sendiri atau bayinya, dan seolah mendengar suara-suara atau tidak dapat berfikir secara jernih, perilakunya aneh, kehilangan sentuhan atau hubungan dengan kenyataan, halusinasi atau khayalan, dan menyangkal bahwa bayi yang dilahirkan bukan anaknya.
Penatalaksanaan: Banyak perempuan dibawah depresi yang biasa menanggapi atau dipengaruhi oleh dorongan atau bujukan dan dukungan fisik yang diberikan oleh bidan atau anggota keluarganya. Bila seorang ibu tidak bereaksi positif terhadap dorongan atau dukungan yang diberikan atau ia tetap menunjukan perilaku aneh (mendengar suara-suara, berada diluar kenyataan, halusinasi atau berkhayal, dan menolak bayinya) atau ia berfikir untuk menciderai dirinya sendiri atau bayinya, ia harus dirujuk kepada seorang ahli yang mampu menangani masalah psikologis. Ia mungkin memerlukan pengobatan khusus untuk membantu mengatasi keaadaanya.  
 









BAB III PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Adaptasi psikologis ibu masa nifas terdiri atas 3 fase yaitu: Fase taking in, fase taking hold, dan fase letting go. Jika seorang ibu mengalami gejala-gejala beby blues maka ibu tersebut disarankan untuk beristirahat, meminta dukungan suami, membuang rasa cemas akan bayinya serta mencari hiburan.
Dalam menghadapi seorang ibu yang mengalami kesedihan atau duka cita, hal yang harus dilakukan adalah mencoba mengajak ibu membicarakan apa yang di alami namun jika keadaanya lebih parah pastikan ada yang menemani ibu dan bayinya selama beberapa hari.








DAFTAR PUSTAKA
Suhermi. 2009. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta : Fitramaya
Ambarwati, Wulandari. 2009. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta : Mitra Cendikia
Bahiyatun. 2009. Asuhan Kebidanan nifas normal
Pusdiknakes. 2003. Asuhan Post Partum.
Saifudin. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Maternal dan Neonatal. Jakarta : YBPSP.




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar